Pemeriksaan Kesehatan Calon Ibu

Wanita yang ingin hamil, sebaiknya mempersiapkan diri dengan mendapatkan rangkaian persiapan/pemeriksaan kesehatan

by  Adhiatma Gunawan
share this
| 1 people like this article
 

Pemeriksaan kesehatan sangat penting bagi calon ibu sebelum hamil (sering disebut masa prakonsepsi). Saat pre-conception visit (kunjungan pra-kehamilan), dokter akan menganjurkan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh calon ibu. Lakukan persiapan paling tidak 3-6 bulan sebelum hamil. Dengan demikian, tubuh wannabe-moms siap menerima kehadiran janin dan menjalani kehamilan secara sehat.

Riwayat kesehatan calon ayah dan ibu. Pemeriksaan kesehatan calon ibu dalam rangka mempersiapkan kehamilan, dimulai dengan mengunjungi dokter kandungan di klinik, rumah sakit atau klinik fertilitas. Berkonsultasilah dengan tim dokter terutama jika memiliki riwayat kesehatan yang dapat menyebabkan kondisi kehamilan yang berisiko, seperti: Toksoplasmosis, Rubella (Campak Jerman), Gondongan (mumps), dan lain sebagainya. Dianjurkan untuk mengatasi penyakit atau gangguan kesehatan tersebut lebih dulu, baru kemudian melakukan upaya untuk hamil.

Riwayat kesehatan keluarga. Jika Anda dan pasangan memiliki riwayat penyakit tertentu, sebaiknya Anda melakukan tes genetika di laboratorim. Deteksi dini penyakit seperti thalassaemia, masalah kromosom, dan penyakit metabolisme dapat dilakukan dengan melakukan serangkaian tes.

Untuk beberapa kasus, deteksi dini membantu calon ayah dan ibu menyiapkan faktor psikologis dan mental, terutama jika terjadi kehamilan berisiko tinggi.

Bagi calon ibu, berikut pemeriksaan klinis yang sebaiknya dilakukan:

  • Berat badan. Berat badan calon ibu bisa berpengaruh terhadap kesuburan. Jika kelebihan berat badan, bisa terjadi ketidakseimbangan hormon yang menyebabkan tingkat kesuburan menurun. Jika pun terjadi pembuahan saat berat badan berlebih, risiko calon ibu untuk menderita diabetes cukup besar. Bahkan, calon ibu berisiko terserang pre-eklampsia (komplikasi dari tekanan darah tinggi pada kehamilan). Saat tiba waktu persalinan, kegemukan juga bisa mempersulit persalinan. Sebaliknya, jika calon ibu terlalu kurus, kesuburan akan terpengaruh. Calon ibu bisa mengalami gangguan keseimbangan hormon. Calon ibu yang terlalu kurus menyebabkan ketidakteraturan haid. Agar proses ovulasi terjadi, tubuh calon ibu biasanya membutuhkan hormon estrogen. Agar hormon ini diproduksi, berat badan tubuh akan bertambah sekitar 25% dari bobot normal. Itulah kenapa jika bobot tubuh kurang dari normal, maka tubuh juga susah payah dalam memproduksi hormon estrogen dengan baik. Ujungnya, ovulasi (pengeluaran sel telur dari indung telur) gagal berlangsung dengan baik.
  • Rongga panggul. Dokter kebidanan dan kandungan perlu memeriksa kesehatan rongga panggul. Pemeriksaan ini akan mendeteksi, apakah ada masalah pada organ reproduksi calon ibu. Misalnyal, kista indung telur yang menyebabkan menurunnya tingkat kesuburan. Bentuk dan posisi rahim tertentu yang pun juga menghambat terjadi pembuahan, dan pertumbuhan janin. Selain kista, keluhan calon ibu adalah mioma, yakni sejenis tumor yang biasanya tumbuh di dinding rahim. Mioma memang tidak bersifat ganas, tapi benjolannya kadang-kadang menekan jaringan sekitarnya, seperti usus dan kandung kemih. Sehingga, calon ibu merasakan nyeri dan pendarahan hebat saat haid. Jika kemudian ibu hamil dengan miom dalam rahimnya, maka yang nyeri panggul akan dialaminya.
  • Pap smear. Dokter melakukan pemeriksaan ini untuk mendeteksi ada tidaknya kanker atau gangguan lain di leher rahim. Pap smear dilakukan hanya setelah seorang wanita aktif secara seksual (tidak diperkenankan untuk dilakukan pada seorang virgin).

Selain itu, penting juga untuk melengkapi status imunisasi, seperti: rubella, vaksin cacar air, suntikan tetanus, dan bahkan vaksin HPV. Jika Anda belum segera ingin hamil, ada baiknya selesaikan dengan tuntas imunisasi Anda (diskusikan secara detail dengan dokter Anda). Hal tersebut cukup penting karena, jika terkena infeksi beberapa penyakit diatas, dan Anda sedang hamil, dan tubuh tidak memiliki daya tahan yang kuat, maka hal itu dapat membahayakan kehamilan.

Jadi kesimpulannya, persiapkan sebaik mungkin perencanaan kehamilan, termasuk mempersiapkan diri baik dari sisi kesehatan, mental, maupun psikologis. Good luck!

Related Article

Related Posts:

If you want to post a new question or view related questions about this article, please click here:

Question and Answers (0)

If you want to post comments about this article, you must be logged in as mom(me)world member.
Don't have an account? Registration is free. :)


Post your comment

Be the first to comment on this article!