Panggul Sempit vs Melahirkan

Ternyata ukuran panggul bukanlah segala-galanya

by  Adhiatma Gunawan
share this
 

Ketika memasuki usia kehamilan di trimester 2 atau 3, kadang muncul celetukan, “Aduh, kata dokter ukuran panggulku sempit, jadi bakalan sulit melahirkan lewat cara normal.” Atau ada juga yang mengira-ngira sendiri dengan berkata, “Badan saya kan kecil, bisa ga yah ntar melahirkan dengan cara normal? Atau harus lewat operasi caesar?”

Satu-satunya cara pasti untuk mengetahui apakah ukuran panggul -untuk menentukan proses persalinan- cukup atau tidak, terlalu kecil atau tidak, adalah dengan melakukan pemeriksaan oleh dokter. Pemeriksaan tersebut sering disebut sebagai pelvimetri, yaitu mengukur beberapa parameter (lebih dari 10) ukuran rongga panggul.

Mengapa panggul yang dijadikan patokan? Karena pada saat proses persalinan, bayi akan memulai perjalanannya keluar dari mulut rahim melalui jalan lahir, hingga berhasil dikeluarkan. Nah, jalan lahir yang paling sempit adalah rongga panggul. Untuk mudahnya, jika rongga panggul berhasil mengakomodasi ukuran bayi, maka kemungkinan besar proses persalinan bisa berjalan dengan normal. Sebaliknya jika seandainya pun perkiraan ukuran dan berat bayi tidak terlalu besar, tapi ukuran panggulnya memang sempit, maka proses persalinan per vaginam perlu dimonitor (dan jika tidak berhasil perlu dilakukan operasi caesar).

Semua aspek pengukuran rongga panggul itu biasanya bisa dilakukan pada saat antenatal care, atau pemeriksaan regular selama kehamilan. Beberapa dokter mungkin jarang melakukan pemeriksaan secara lengkap, hal ini dikarenakan prosedur pengukuran itu sendiri cukup banyak dan tidak nyaman bagi si pasien. Lagipula hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhi proses kehamilan, hanya menentukan prospek pada saat proses persalinan saja. Metode lain seperti MRI atau X-ray juga bisa dilakukan, tapi sejatinya pada praktek sehari-hari amat jarang dilakukan.

Yang perlu benar-benar dipahami adalah bahwa keberhasilan proses persalinan tidak hanya melulu tergantung pada faktor ukuran panggul saja. Setidaknya ada 3+1 faktor “P” yang turut menentukan sukses tidaknya persalinan melalui cara normal:

  • Power. Hal ini dikenal juga dengan kekuatan kontraksi si ibu pada saat proses persalinan. “Power” ini sangat penting, karena jika si ibu ketakutan, belum waktunya mengejan tapi dia mengejan, maka pada saatnya nanti tenaga untuk melakukan dorongan kontraksi akan berkurang. Kadang power juga bisa dibantu dengan infus, atau obat tertentu untuk meningkatkan kontraksi rahim. Jadi tenaga untuk kontraksi harus dilakukan pada saat yang tepat supaya efektif.
  • Passage. Yang dimaksud adalah ukuran dan bentuk jalan lahirnya, termasuk ukuran dan bentuk rongga panggul. Tidak ketinggalan juga jaringan otot di sekitar rongga panggul. Parameternya meliputi: ukuran, diameter, sudut panggul, dan lain-lain.
  • Passenger. Faktor lain yang ikut mempengaruhi tentunya adalah si bayi itu sendiri. Bahkan seorang ibu pun bisa melahirkan bayi dengan ukuran normal -bahkan jika ukuran panggulnya relatif sempit- namun kedua faktor “P” yang lain yaitu power dan passage baik. Atau sebaliknya, ukuran panggul normal, tapi jika memang berat dan ukuran bayi terlalu besar, tetap saja akan mengalami kesulitan pada proses persalinan cara normal.
  • Psikologi. Faktor “P” tambahan ini hampir tidak pernah disebutkan dalam buku teori kedokteran. Tapi beberapa pakar dan peneliti mempercayai bahwa faktor psikologis bisa memegang peranan penting pada saat proses persalinan, seperti: kehadiran suami, keluarga yang ikut memberikan support penuh pada calon ibu.

Jadi, ternyata ukuran panggul bukanlah segala-galanya, walau memang ukuran tersebut merupakan salah satu parameter penting dalam keberhasilan proses persalinan. Jangan segan-segan untuk mendiskusikan hal-hal tersebut dengan dokter kandungan Anda. Tentunya kita semua harus mempersiapkan yang terbaik untuk persalinan bayi tercinta bukan?

Again, Happy New Year 2010! Have a wonderful week!

Related Article

Related Posts:

If you want to post a new question or view related questions about this article, please click here:

Question and Answers (0)

If you want to post comments about this article, you must be logged in as mom(me)world member.
Don't have an account? Registration is free. :)


Post your comment


dr. Adhi
19 August 2010 | 05:13 am

dear renogalih, putra/putri yang kedua kapan lahirnya? harusnya bisa kok VBAC (Vaginal Birth After Caesarean) asal jaraknya tidak terlalu dekat. lalu studi terakhir menyebutkan pengalaman 2x SC gapapa kalo berikutnya mau mencoba kelahiran normal. tapi alangkah baiknya kamu mendiskusikan hal itu terlebih dahulu dengan dokter kamu yah, karena dokter kamu (apalagi kalo dokter yang sama dengan dokter yang did SC dulu di 2 persalinan sebelumnya) yang paling mengerti kondisi organ rahim dan organ sekitarnya. okai?

renogalih
13 August 2010 | 05:15 am

dok... aku mau tanya dong.... sebelumnya namaku arien... aku ibu 2 anak & akan menjadi 3 bulan september besok... :P yang aku mau tanya... kalau sudah pernah melahirkan secara SC (2x), apa masih mungkin melahirkan secara normal.... coz aku ingin banget melahirkan normal di anak ke 3 ini.... thanks ya dok...