23
Jan

Bagi wannabe-moms, pasti sering sekali mendengar dan bahkan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan toxoplasma sebelum kehamilan -belakangan sudah menjadi paket pemeriksaan premarital di laboratorium atau klinik. Nah, hari ini kita akan review sedikit mengenai infeksi toxoplasma, khususnya terkait dengan kehamilan.

Infeksi toxoplasma (disebut toxoplasmosis) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii. Manusia dapat terinfeksi melalui makanan yang mentah yang mengandung kista protozoa, atau bisa juga melalui transfusi darah, atau melalui tangan yang terkontaminasi.

Binatang peliharaan seperti kucing bisa menjadi sumber infeksi, yaitu dengan cara kucing terinfeksi parasit itu melalui makanannya, lalu toxoplasma gondii akan membentuk sel -disebut oocysts, yang kemudian keluar lewat kotoran kucing tersebut. Kita bisa tertular jika tangan yang terkontaminasi parasit (sehabis berkebun atau membersihkan kotoran kucing) menyentuh makanan kita. That’s why penting sekali untuk selalu mencuci tangan sebelum makan (hhmm, sounds like iklan sabun hehehe).

Lalu, apa gejalanya jika terkena toxoplasmosis?

Orang dewasa yang memiliki pertahanan tubuh yang kuat biasanya bisa mengatasi infeksi ini. Gejala yang muncul pun biasanya ringan, seperti: pembesaran kelenjar getah bening, linu, pusing, gejala seperti flu. Gejala tersebut biasanya muncul 2-3 minggu setelah terkena infeksi. Nah perhatian khusus perlu diberikan jika wanita hamil -atau merencanakan kehamilan- terkena toxoplasmosis. Karena wanita hamil yang terinfeksi toxoplasmosis dapat menularkan penyakitnya pada janin yang dikandungnya.

Kemungkinan toxoplasmosis ditularkan pada janin dan juga tingkat keparahan penyaktinya tergantung pada waktu kapan terjadinya infeksi saat kehamilan. Pada trimester awal, kemungkinan janin terinfeksi lebih kecil, tapi bisa menyebabkan komplikasi yang lebih berat. Sebaliknya pada akhir kehamilan, janin lebih besar kemungkinan terinfeksi, walaupun efek komplikasinya biasanya tidak parah. Infeksi yang terjadi saat kehamilan bisa berakibat keguguran, kematian janin, pertumbuhan janin yang terhambat, kerusakan otak janin (dan juga organ lainnya), dan penelitian juga menyebutkan bahwa janin yang lahir hidup dapat menderita cacat bawaan akibat toxoplasmosis tersebut.

Cara untuk mengetahui apakah wanita hamil -atau yang merencanakan kehamilan- terinfeksi atau tidak, adalah dengan melakukan tes laboratorium. Jika hasil antibodi negatif, berarti Anda tidak memiliki kekebalan terhadap toxoplasma. Jika hasilnya positif, bisa berarti Anda memiliki kekebalan atau baru saja terkena infeksi.

Jika wanita hamil terkena toxoplasma, maka ia akan menerima pengobatan yang tujuannya untuk menurunkan risiko infeksi pada janin. Spiramisin adalah salah satu obat pilihan untuk mengobati toxoplasmosis. Untuk dosis dan detail penanganannya, konsultasikan dengan dokter kandungan Anda. Dokter Anda mungkin juga akan menganjurkan pemeriksaan terhadap janin Anda.

Jadi kesimpulannya, jika sedang atau merencanakan kehamilan, jangan sembarangan makan daging mentah (kita tidak pernah tahu sumbernya mengandung protozoa toxoplasma atau tidak), selalu biasakan mencuci tangan, dan berkonsultasilah pada dokter Anda (juga periksakan diri ke laboratorium) terutama jika Anda memiliki binatang peliharaan di rumah.

No Comments

  • Be the first to comment on this article!

Leave Your Comment

If you want to post comments about this article, you must be logged in as mom(me)world member. Don't have an account? Registration is free. :)

Get In Touch

Contact Form

* indicates area required