Fakta tentang Cairan Ketuban

Tahukah Anda bahwa janin meminum urin-nya sendiri di dalam kandungan?

by  Adhiatma Gunawan
share this
| 1 people like this article
 

Janin di dalam rahim bisa dibilang berada dalam kondisi yang sangat aman dan nyaman. Semua nutrisi terpenuhi, dan janin juga dilindungi lapisan otot dinding perut, rahim, dan bantalan cairan didalamnya. Nah hari ini saya ingin membahas sedikit tentang cairan ketuban (amniotic fluid).

Cairan ketuban akan bertambah banyak seiring dengan bertambahnya usia kehamilan, hingga mencapai puncaknya pada sekitar minggu 34-36, yaitu mencapai 800-1000 ml. Cairan itu memiliki beberapa fungsi yang cukup penting sepanjang masa kehamilan, seperti:

  • Cairan ketuban merupakan pusat pertukaran zat antara ibu dan janin, yang mana mengandung zat-zat seperti: protein, karbohidrat, phospholipid, dan elektrolit yang diperlukan janin.
  • Sebagai pelindung (semacam bantalan) terhadap trauma dan benturan.
  • Cairan ketuban merupakan hasil produksi metabolisme didalam tubuh janin, yang oleh janin akan dihirup dan ditelan, dan kemudian dikeluarkan dalam bentuk urin, dan (this is the fact!) si janin akan meminum urinnya tersebut kembali.
  • Cairan ketuban membuat janin bisa bebas bergerak-gerak (yang akan semakin berkurang mendekati persalinan, dikarenakan ukuran janin yang kian membesar dan ruang gerak yang semakin “sempit); hal ini dapat membantu melatih pertumbuhan otot si janin.

Selain fungsi di atas, janin juga memerlukan cairan ketuban ini untuk pertumbuhan paru-parunya. Ketika janin menghirup cairan ketuban ini, maka hal ini akan merangsang pertumbuhan jaringan paru-parunya, yang nantinya disiapkan untuk jalan masuk udara saat ia lahir.

Karena cairan ketuban mengandung banyak sel-sel janin, maka cairan ini dapat dipakai untuk analisa ada tidaknya kelainan pada pertumbuhan janin dan kesehatan genetik bayi. Prosedur ini disebut amniocentesis (yaitu mengambil sampel cairan ketuban).

Pada artikel terpisah, saya akan menjelaskan kondisi-kondisi seperti jumlah cairan ketuban yang sedikit (oligohydramnios) atau jumlah cairan ketuban yang berlebih (polyhydramnios). Sebagai contoh, jika jumlah cairan ketuban berlebihan, bisa jadi ada problem pada saluran pencernaan janin (karena seharusnya janin ‘meminum’ cairan ketubannya). Nah, kondisi tersebut dapat digunakan sebagai suatu perkiraan akan kondisi medis tertentu.

Beberapa studi dan penelitian akhir-akhir ini mengungkapkan suatu penemuan dugaan bahwa cairan amnion (ketuban) memiliki kadar stem cell (sel induk) yang cukup yang kemungkinan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi organ dan jaringan tubuh (sama dengan sel induk dari darah tali pusat).

Related Article

Related Posts:

If you want to post a new question or view related questions about this article, please click here:

Question and Answers (0)

If you want to post comments about this article, you must be logged in as mom(me)world member.
Don't have an account? Registration is free. :)


Post your comment

Be the first to comment on this article!