Hari ini saya pingin membahas sedikit tentang salah satu komplikasi kehamilan, yaitu preeklampsia. Walaupun kita semua berharap bahwa jangan sampai ibu hamil mengalami kasus ini, tapi tidak ada salahnya kita memahaminya sebagai tambahan ilmu.
Preeklampsia adalah suatu kondisi pada kehamilan dimana terjadi peningkatan tekanan darah dan ditemukannya protein pada urin. Hal ini biasa terjadi pada kehamilan trimester 3. Tekanan darah dianggap tinggi jika melebihi 140/90 mmHg. Preeklampsia juga sering diikuti dengan gejala bengkak pada bagian kaki, tungkai, tangan. Jika tekanan darah sistole (batas atasnya) melebihi 160mmHg, maka dikategorikan sebagai preeklampsia berat.
Penyebab pasti terjadinya preeklampsia tidak diketahui, namun beberapa hipotesis ilmiah menyebutkan bahwa beberapa penyebabnya adalah berkurangnya asupan darah ke janin akibat mengecilnya pembuluh darah, perubahan pada sel pembuluh darah, reaksi imunitas tubuh, juga bisa karena pola diet yang buruk.
Jadi, jika pembuluh darah menyempit (ini yang terjadi pada kasus preeklampsia) maka menyebabkan tekanan darah meningkat dan aliran darah ke janin akan berkurang. Ini dapat membawa dampak buruk pada janin, mulai dari terhambatnya pertumbuhan, hingga terjadinya kelahiran prematur.
Lalu apa yang menyebabkan seorang wanita hamil bisa terkena preeklampsia? Beberapa faktor risikonya adalah sebagai berikut:
- Ada riwayat preeklampsia pada keluarga
- Kehamilan pertama kali
- Usia saat hamil lebih muda dari 20 tahun atau diatas 40 tahun
- Kehamilan multipel (kehamilan kembar)
- Sebelum hamil telah memiliki riwayat tekanan darah tinggi (hipertensi)
- Ada kelainan penyerta lainnya seperti: lupus, diabetes, kelainan pembekuan darah, dan lainnya
Nah jika wanita hamil didiagnosa preeklampsia, maka penanganan yang perlu dilakukan adalah:
- Jika preeklampsia ringan, maka bisa dilakukan rawat jalan dengan advis untuk mengurangi konsumsi garam, dan dianjurkan istirahat dan kontrol tiap minggu.
- Jika tekanan darah tinggi dan protein pada urin telah menetap selama 2 minggu, maka dianjurkan untuk dilakukan monitoring dan observasi di rumah sakit.
- Pada preeklampsia ringan, jika usia kehamilan lebih dari 37 minggu, maka dokter akan menganjurkan untuk segera dilakukan induksi persalinan atau operasi caesar. Namun jika usia kehamilan kurang dari 37 minggu, biasanya pasien dianjurkan pulang dan beristirahat sambil terus memantau kondisi kehamilannya.
- Jika terjadi preeklampsia berat (tensi lebih dari 160/110mmHg), maka harus segera dilakukan terminasi kehamilan, terlepas dari usia kehamilan sudah atau belum mencapai 37 minggu. Persalinan pun dilakukan dengan cara induksi atau operasi caesar.
Dokter akan memantau secara ketat kondisi preeklampsia pada wanita hamil, dan memberikan obat-obatan yang harus dikonsumsi oleh si pasien, demi kebaikan ibu dan janin. Kortikosteroid kadang perlu diberikan pada bayi dibawah usia 37 minggu, namun sudah harus dilakukan terminasi kehamilan akibat kasus preeklampsia.
Beberapa hal yang mungkin dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya preeklampsia adalah konsumsi vitamin C, D, dan E (karena mengandung anti oksidan yang dipercaya bisa mencegah terjadinya proses perubahan seluler pada pembuluh darah), konsumsi kalsium juga dinilai penting. Selain itu diet sehat juga tidak ada salahnya diterapkan selama kehamilan.









No Comments